Database
atau basis data adalah kumpulan informasi yang disimpan dalam komputer secara
sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program komputer untuk memperoleh
informasi dari basis data tersebut. Software
yang digunakan untuk mengelola dan memanggil kueri (query) basis data disebut sistem manajemen basis data (Database Management System – DBMS) (http://id.wikipedia.org/wiki/Basis_data).
Database Management System (DBMS) merupakan
software yang memudahkan organisasi
untuk memusatkan data, mengelola data secara efisien, dan menyediakan akses
data bagi program aplikasi (Laudon dan Laudon, 2010: 240). DBMS merupakan suatu sistem atau perangkat lunak yang dirancang untuk mengelola
suatu basis data dan menjalankan operasi terhadap data yang diminta banyak pengguna (http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_manajemen_basis_data).
McLeod
menyebutkan, DBMS adalah the software
that establishes and maintains the logical integration between files, whether
it be explicit or implicit. DBMS dapat membantu perusahaan mengelola database yang dimilikinya agar lebih
teratur dan meminimalisir berbagai resiko yang muncul akibat pengelolaan database secara tradisional sehingga
diharapkan proses bisnis perusahaan dapat lebih efektif dan efisien.
Menurut Laudon dan Laudon terdapat beberapa masalah
dalam pengelolaan file secara
tradisional, yaitu:
1. Redundansi dan Inkonsistensi Data.
Redundansi data adalah adanya duplikasi data dalam
beberapa file data sehingga data yang
sama disimpan didalam lebih dari satu lokasi. Redundansi data terjadi ketika file kelompok yang berbeda dalam
organisasi mendapatkan data yang sama secara independen dan menyimpannya secara
independen juga. Redundansi data menghabiskan tempat penyimpanan data dan juga
menimbulkan inkonsistensi data, dalam arti atribut yang sama mungkin mempunyai
nilai berbeda.
2. Ketergantungan Program Data
Hal ini mengacu pada pasangan data yang tersimpan
dalam file dan program tertentu yang dibutuhkan untuk memperbarui dan
memelihara file tersebut sehingga
perubahan data dalam programnya membutuhkan perubahan dalam datanya.
3. Kurangnya Fleksibilitas
Sistem file
tradisional dapat mengirim laporan terjadwal rutin setelah dilakukan
pemrograman yang ekstensif, tapi tidak dapat mengirim laporan khusus atau
merespon kebutuhan informasi yang tidak diantisipasi secara tepat waktu.
4. Keamanan yang Buruk
Kendali terhadap data dan pengelolaannya kurang,
akses kepada dan penyebaran dari informasi mungkin tidak dapat dilakukan.
Manajemen mungkin dapat mengetahui siapa yang sedang mengakses atau bahkan
memebuat perubahan pada data organisasi.
5. Kekurangan dalam Pembagian dan Ketersediaan Data
Karena potongan-potongan informasi didalam bagian
yang berbeda dari organisasi tidak dapat dihubungkan satu dengan yang lainnya,
maka mustahil informasi tersebut dapat dibagikan atau diakses secara tepat
waktu. Informasi tidak dapat mengalir dengan bebas melintasi daerah fungsional
yang berbeda-beda atau bagian yang berbeda dari organisasi.
Akan tetapi penerapan DBMS pada perusahaan juga
tidak sepenuhnya aman, karena data dijadikan terpusat, maka akan dapat diakses
oleh fungsi-fungsi yang ada di perusahaan. Pengamanan bisa dilakukan dengan
cara pemberian sebuah password ketika
akan melakukan akses data.
Dengan menggunakan DBMS, perusahaan dapat
memperkecil redundansi dan inkonsistensi data dengan cara meminimalisir file-file terpisah yang berisi data yang
sama. DBMS memisahkan program dari data, membuat data dapat berdiri sendiri.
DBMS memudahkan organisasi untuk mengelola data, menggunakannya, dan
mengamankannya secara terpusat.
Gambar Database Management System
Sumber: http://arimma.blogspot.com/
Basis data
menyediakan banyak tampilan tentang data, bergantung pada kebutuhan informasi
dari pengguna. Adapun database personnel adalah sebagai berikut:
1. Database Administrator (DBA). Merupakan seorang ahli yang
dapat mengembangkan, menyediakan, dan menjaga basis data. Tugas dari seorang
DBA terdiri dari empat area yaitu planning,
implementation, operation, dan security.
2. Database Programmer. Merupakan orang yang memiliki banyak
pengalaman di bidang programer perusahaan. Jika dalam pemrograman terjadi
kesalahan dalam database, maka
konsekuensinya dapat dirasakan oleh para pengguna. Database programmer
dibutuhkan dalam pembuatan efisiensi data dan memproses kode komputer.
3. End User. Merupakan pengguna akhir dari database dan menggunakan hasil yang diberikan database sebagai referensi dalam
pengambilan keputusan (McLeod, 2007: 145).
Terdapat beberapa jenis DBMS yang biasa digunakan
oleh organisasi, yaitu:
1. DBMS Relasional
Basis data
relasional merepresentasikan data seperti tabel dua dimensi yang disebut
relasi. Tabel dapat dirujuk sebagai file.
Setiap tabel berisi data tentang sebuah entitas dan atributnya (Laudon dan
Laudon, 2010: 241).
Dalam basis
data relasional, tiga operasi dasar digunakan untuk mengembangkan himpunan data
yang bermanfaat yaitu Select, join, dan
project. Perintah select membuat subset yang yang terdiri
atas semua record dari tabel.
Perintah join menggabungkan tabel
relasional untuk menyediakan lebih banyak informasi daripada yang tersedia di
dalam satu tabel. Sedangkan perintah project
membuat subset yang berisi kolom dalam sebuah tabel, mengizinkan pengguna
untuk membuat tabel baru yang hanya berisikan informasi yang dibutuhkan (Laudon
dan Laudon, 2010: 243).
2. DBMS
Berorientasi Objek
Banyak
aplikasi saat ini membutuhkan basis data yang dapat menyimpan dan mengambil
kembali record yang tidak hanya
berisi nomor atau karakter, tetapi juga gambar, foto, suara, dan video.
Sebuah DBMS
berorientasi objek menyimpan data dan prosedur yang menganggap data tersebut
sebagai objek yang secara otomatis dapat diambil kembali dan dibagikan.
Walaupun basis data berorientasi objek dapat menyimpan lebih banyak informasi
yang rumit daripada DBMS relasional, DBMS berorientasi objek relatif lebih
lambat dibandingkan dengan DBMS relasional dalam memproses jumlah transaksi
atau record yang besar (Laudon dan
Laudon, 2010: 243).
DBMS
menyertakan kapabilitas dan perangkat untuk mengorganisasikan, mengelola, dan
mengakses data dalam basis data. DBMS mempunyai kapabilitas definisi data untuk
menentukan struktur dari isi basis data. Ini akan digunakan untuk membuat tabel
basis data dan untuk mendefinisikan karakteristik field dalam setiap tabel. Informasi tentang basis data ini akan
didokumentasikan dalam kamus data. Kamus data adalah file otomatis atau manual yang menyimpan definisi dari
elemen-elemen data dan karakteristiknya.
DBMS
menyertakan perangkat untuk mengakses dan memanipulasi informasi dalam basis
data. Kebanyakan DBMS mempunyai bahasa khusus yang disebut bahasa manipulasi
data (data manipulation language) yang digunakan untuk menambahkan,
mengganti, menghapus, dan mengambil kembali data di dalam basis data. Bahasa
ini berisi perintah-perintah yang memungkinkan pengguna dan pakar pemrograman
mengambil data dari basis data untuk memenuhi permintaan informasi dan
mengembangkan berbagai aplikasi (Laudon dan Laudon, 2010: 245).
Ketika
perusahaan memutuskan untuk menggunakan DBMS dalam mengelola databasenya, maka sebelumnya perusahaan
harus memahami hubungan diantara data, jenis data yang akan dipelihara didalam
basis data, dan bagaimana data akan digunakan.
Rancangan
basis data mempertimbangkan bagaimana data didistribusikan. Ada dua metode
utama dalam mendistribusikan sebuah basis data yaitu basis data terpartisi
dan basis data duplikat. Dalam basis
data terpartisi, bagian-bagian dari basis data disimpan dan dipelihara secara
fisik dalam satu lokasi dan bagian-bagian yang lain disimpan dan dipelihara
dalam lokasi yang lain sehingga setiap prosesor remote mempunyai data yang dibutuhkan untuk melayani daerah
lokalnya. Perubahan didalam file lokal
dapat dicocokkan dengan basis data pusat menjadi sekumpulan basis data, hal ini
sering dilakukan malam hari. Metode lainnya adalah dengan mereplikasi
(menduplikasi secara keseluruhan) basis data pusatnya pada seluruh lokasi remotenya.
Sistem terdistribusi mengurangi
kerentanan situs pusat yang tunggal dan besar. Sistem terdistribusi meningkatkan
pelayanan dan kecepatan respon pada pengguna lokal dan sering dapat berjalan
dalam komputer yang lebih kecil dan lebih murah. Namun, basis data lokal
kadang-kadang dapat melenceng dari standar dan definisi data pusat, dan membawa
masalah keamanan akibat mendistribusikan akses secara luas terhadap data yang
sensitif. Desainer basis data harus mempertimbangkan faktor-faktor ini dalam
keputusannya (Laudon dan Laudon, 2010: 276). DBMS yang sering digunakan dalam
aplikasi program antara lain MySQL, Oracle, Firebird, Microsoft SQL Server 2000,
Visual Foxpro 6.0, Database Desktop Paradox (http://rutaprilia.wordpress.com/2012/01/).


0 komentar:
Posting Komentar